Penyebab Penyakit Kulit pada Bayi dan Cara Pencegahannya

Mungkin Anda pernah menemukan bercak atau ruam yang muncul pada kulit bayi Anda. Meskipun pada umumnya bukan merupakan masalah yang besar dan relatif mudah untuk diobati, akan tetapi tidak ada salahnya mengetahui penyakit apa yang dideritanya.

Biasanya bayi yang berumur kurang dari satu tahun mengalami masalah gangguan pada kulitnya. Pada dasarnya Kulit yang melapisi tubuh memang bertugas melindungi tubuh dari segala serangan baik dari bakteri, maupun sinar matahari. Meski demikian, hal ini tidak terjadi begitu saja. Untuk berfungsi secara efektif lapisan epidermis kulit setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun. Oleh karena itu, maka tidak heran apabila penyakit atau infeksi kulit kerap menyerang si buah hati.

penyakit-kulit-cacar-air

Berikut adalah beberapa penyakit kulit yang sering terjadi pada bayi :

1.Cacar Air

Bentuk cacar air berupa bintil-bintil merah pada kulit di sekujur tubuh. Cacar air akan terasa gatal dan apabila digaruk dapat menimbulkan lecet yang akan berbekas pada kulit. Bintil-bintil merah ini dapat pecah, kemudian mengering, dan akan meninggalkan kerak. Cacar air juga beresiko menjadi penyakit yang serius dengan karakteristik mudah menular.

Walaupun anak Anda sudah disuntikan vaksin cacar, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bisa tertular di masa dewasa. Akan tetapi berkat vaksin tersebut penyakit ini jarang ditemui. Berapa pun usianya, baik bayi, remaja, bahkan orang dewasa yang belum pernah menderita atau mendapat vaksin cacar air, wajib mendapatkan vaksin cacar ini.

2.Biang Keringat

Biasanya bentuk biang keringat berupa benjolan kecil berwarna merah terdapat pada leher, wajah, dan punggung. Penyebab Biang keringat terjadi adalah karena kulit bayi belum mampu mengatur suhu tubuh dengan baik. Maka orang tua harus  mewaspadai udara yang lembab,  pakaian yang terlalu ketat, dan cuaca panas karena dapat memicu timbulnya biang keringat pada kulit.

3.Eksim

Usia Bayi antara 3 – 4 bulan sudah berisiko mengalami eksim. Eksim ditandai dengan kulit bayi yang terasa kasar, dan bisa muncul di sekujur tubuh. Kulit yang kasar ini juga akan terasa sangat gatal. Beberapa penyebab yang dapat menimbulkan eksim pada bayi antara lain adalah sebagai berikut : cuaca dingin, cuaca panas, ataupun deterjen yang digunakan untuk mencuci pakaian bayi, pewangi, maupun material pakaian yang digunakan. Agar lebih mudah dalam mencegah atau mengatasinya eksim pada bayi, dianjurkan kepada orang tua agar mencari tahu penyebab utama eksim pada bayi.

4.Intertrigo

Biasanya berupa ruam berwarna merah umumnya terjadi pada bagian leher lipatan kulit bayi. Penyakit kulit ini biasanya lebih sering dialami oleh Bayi yang gemuk dan berusia kurang dari enam bulan. Penyakit ini diantaranya disebabkan oleh air liur yang menetes di leher terperangkap di lipatan-lipatan kulit yang menyebabkan udara tidak bisa masuk, kulit leher yang lembap secara berlebihan . Sehingga mengakibakan ruam intertrigo pun muncul.

5.Dermatitis Kontak

Dinamakan demikian sebab penyakit kulit ini muncul akibat kulit bayi yang mengalami kontak/ sentuhan dengan berbagai pemicunya. Misalnya : baju yang sehabis dicuci (karena terkena  deterjen), sabun yang tidak cocok untuk kulit bayi, karpet, bahkan rumput atau tanaman di sekitar rumah. Dermatitis kontak dapat terlihat dengan adanya ruam pada bagian tubuh yang bersentuhan dengan penyebab. Bila ruam terlihat kering, Anda dapat mengoleskan lotion pelembap pada area terkait. Akan tetapi, apabila ruam terasa gatal, dianjurkan agar segera memeriksakan kondisi bayi ke dokter untuk memperoleh krim hidrokortison atau antihistamin.

Disarankan kepada orang tua untuk mencari tahu faktor-faktor yang bisa menjadi menyebabkan penyakit kulit pada si buah hati. Setidaknya hal tersebut dapat memberikan Anda kewaspadaan lebih tinggi dalam berusaha mencegah bayi Anda semaksimal mungkin agar terhindar dari penyakit kulit. Apabila terjadi pun, Anda tidak perlu panik dan bisa segera fokus kepada upaya penyembuhan.

6.Kutil

Penyakit kulit ini umumnya ditemukan pada jari dan tangan. Kutil bisa terjadi pada bayi dan juga anak-anak yang disebabkan karena terinfeksi virus atau tertular orang dewasa. Kutil pada umumnya tidak terasa sakit, akan tetapi bisa menyebar dengan mudah. Penyebaran kutil bisa terjadi karena menyentuh benda yang dipakai oleh orang yang sedang terinfeksi virus kutil, ataupun melalui sentuhan langsung dengan penderita. Salah satu cara untuk mencegah penyebarannya yaitu dengan cara menutupi kutil dengan perban longgar. Beri tahu anak Anda agar tidak menggigiti kuku atau mengorek-ngorek kutil. Anda tidak perlu terlalu khawatir, karena pada dasarnya kutil mudah sembuh dengan sendirinya.

Baca Juga : Makanan Asin Bisa Mempercepat Kematian

Tips Penggunaan Bantal Pada Bayi

Berikut adalah beberapa hal yang perlu di perhatikan orang tua terkait penggunaan bantal untuk bayi, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Bantal boleh digunakan pada saat bayi tidur siang, namun dengan catatan harus tetap ada yang mengawasinya. Bila tidak ada yang bisa mengawasi, lebih baik tidak usah menggunakan bantal.
  • Pada malam hari jauhkan semua bantal dari keranjang bayi ataupun  pada saat bayi sedang tidak dalam pengawasan.
  • Sebaiknya memilih bantal yang rendah risiko alergi  atau isian yang bersifat hipoalergenik.
  • Jika bayi tertidur dengan bantalnya, perlahan-lahan ambil bantal tersebut dengan lembut lalu letakkan bayi di dalam keranjangnya.
  • Pilihlah bantal yang kecil dan kukuh dengan sarung yang halus/ lembut.
  • Gunakan bantal polos, jangan yang dihias dengan manik-manik, kancing, rumbai, atau aksesoris jahitan lainnya.
  • Utamakan menggunakan bantal yang berbahan kain katun,  dan dianjurkan agar tidak memakai bantal yang menggunakan bahan poliester karena kain poliester dapat menyebabkan iritasi.
  • Disarankan tidak memberi makan bayi pada saat dia sedang berbaring di atas bantal.
  • Suapi bayi dengan posisi seperti sedang menyusui. Jangan gunakan bantal apabila Anda meletakkan bayi di dalam ayunan.
  • Apabila ada ruam pada kulit bayi Anda dan terus berkembang, sebaiknya periksakan Bayi Anda ke dokter.
  • Biasakan Membersihkan bantal secara rutin. Bantal dapat menjadi sarang kuman, keringat, sisa susu yang mengering, debu, atau minyak bayi.
  • Cucilah bantal sesuai dengan petunjuk perawatan bantal dan pastikan b ahwa bantal tersebutbenar-benar sudah kering sebelum digunakan kembali oleh Bayi Anda.

tips-penggunaan-bantal-pada-bayi

Anda tidak perlu memaksakan menggunakan bantal untuk bayi. Sebenarnya bayi berusia di bawah dua tahun tidak memerlukan bantal untuk merasa nyaman atau membantu kepalanya menjadi bundar sempurna. Selain itu, pada saat bayi tidur bersama Anda, jangan lupa untuk menyingkirkan semua bantal atau guling yang ada.

Baca Juga : Penyebab Penyakit Kulit Pada Bayi Dan Cara Pencegahannya

Tidur Menggunakan Bantal Ternyata Berbahaya Untuk Bayi

Sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa dengan menggunakan bantal yang berbentuk huruf U untuk bayi dapat membantu kepala bayi bisa terbentuk bundar sempurna. Tolong hati-hati karena anggapan itu keliru. Sampai saat ini, masih belum ada bukti tentang yang menjelaskan maupun menerangkan manfaat bantal bagi bayi. Dan para pakar justru menyarankan agar orang tua bayi tidak menggunakan bantal berbentuk  apa pun kepada bayi sampai bayi berusia dua tahun.

Bentuk kepala bayi yang baru lahir masih belum sempurna, disebabkan pengaruh pada saat proses kelahiran atau alat bantu persalinan (missal : seperti forsep). Kepala bayi membutuhkan waktu untuk dapat berubah ke bentuk yang ideal.

bayi-tidur-tanpa-bantal

Meskipun proses kelahiran memiliki dampak kepada bentuk kepala bayi, sebenarnya tidak ada yang perlu dicemaskan. Seperti yang telah kita lihat, pada sebagian besar kasus ada, seiring dengan berjalannya waktu bentuk kepala bayi dapat menjadi bundar sempurna. Oleh sebab itu, orang tua bayi tidak perlu lagi menyiasatinya dengan bantal yang malahan justru bisa membahayakan bayi.

Berikut adalah beberapa alasan kenapa bantal bentuk huruf U atau bantal apa pun tidak baik untuk bayi :

  • Apabila bayi diletakkan di tengah bantal berbentuk U, maka bayi akan kesulitan untuk memutar atau membalikan kepalanya ke salah satu sisi pada saat bayi muntah atau gumoh. Kondisi seperti ini dapat berisiko menyebabkan bayi tersedak oleh muntahannya sendiri.
  • Selain itu Bantal juga berpotensi membuat bahaya sesak napas atau tersedak.
  • Apabila bantal robek, lalu isi bantal dapat keluar. Jika sedikit saja isian bantal tersebut keluar, kemudian masuk ke mulut atau hidung bayi, bisa menjadikan bayi tersebut berisiko mengalami tersedak.
  • Bantal juga biasa dikaitkan dengan sindrom kematian mendadak pada bayi. Biasa disebut dengan Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).

Bantal dan Sindrom Kematian Mendadak pada Bayi

SIDS biasanya terjadi pada bayi yang sedang tidur dan merupakan kematian tidak terjelaskan. Walaupun bayi terlihat sehat, akan tetapi bayi tersebut bisa saja mengalami SIDS. Fenomena seperti ini terutama sering terjadi pada bayi yang berusia kurang dari setahun. Selain itu SIDS juga dikenal sebagai kematian box bayi, karena bayi sering sekali meninggal dalam box mereka.

Meskipun penyebab SIDS masih belum diketahui secara pasti, SIDS dikaitkan dengan abnormalitas pada porsi otak bayi yang mengontrol pernapasan dan terbangun dari tidur. Teori lain juga mengungkapkan bahwa apabila bayi tersebut tidur dengan posisi tengkurap, maka bayi bisa beresiko SIDS yang lebih tinggi, terutama apabila bayi tidur di kasur yang lembut atau dengan seprai, bersama mainan, boneka, atau bahkan dengan bantal di dekat wajahnya.

Ada juga teori yang menyatakan bahwa permukaan bantal yang lembut atau benda di sekitarnya memungkinkan terciptanya sekat kecil di sekitar mulut bayi dan menjebak hembusan napas. Sehingga dapat mengakibatkan, bayi menghirup kembali hembusan-hembusan napasnya. Kadar oksigen di dalam tubuh Bayi kemudian akan menurun dan karbon dioksida akan terakumulasi. Dan pada akhirnya dapat menyebabkan kekurangan oksigen sehingga dapat berkontribusi terhadap SIDS.

Baca Juga : Tips Penggunaan Bantal Pada Bayi

10 Cara Agar Bayi Cerdas

10 Cara agar Bayi Cerdas

Di era modern sekarang ini, kebanyakan orangtua ingin mengetahui bagaimana cara agar bayi merekan menjadi cerdas. Perkembangan intelektual (kognitif) adalah merupakan perkembangan dari pikiran. Perkembangan intelektual ini sangat bertanggung jawab terhadap bahasa, pemahaman sebab akibat, pembentukan mental, penyelesaian masalah, penilaian, pengambilan keputusan, serta memori (ingatan). Dikarenakan otak yang mengendalikan, sehingga perkembangan kognitif ini sering sekali dihubungkankan dengan kecerdasan.

Perkembangan kognitif pada bayi berlangsung melalui interaksi dengan lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, orangtua memiliki peran penting dalam memaksimalkan perkembangan kognitif anak usia 0 – 12 bulan.

cara-agar-bayi-cerdas

Menurut Dra. Lina E. Muksin, M.Psi., Senior Consultant Propotenzia, Bogor, berikut ini adalah 10 cara yang dapat dijadikan acuan orang tua untuk memaksimalkan kognitif bayinya agar menjadi bayi yang cerdas :

  1. Memberikan stimulasi sensoris pada bulan-bulan awal

Pemahaman Bayi akan sesuatu berawal dari kemampuan sensoris bayi tersebut. Yang berarti, bayi menerima informasi tentang lingkungan di sekitarnya melalui pancaindra, khusus pada usia-usia awal (0 – 6 bulan). Setiap pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, serta pengecapan yang dilakukan oleh bayi, hal tersebut menimbulkan berbagai sensasi, dan pada akhirnya mampu  menciptakan suatu pemahaman pada otak bayi. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut, usapan handuk pada tubuh bayi sehabis mandi, dapat merangsang perkembangan kognitif pada bayi, sebab dari usapan tersebut bayi belajar merasakan tekstur kain handuk yang lembut.

  1. Hindari stimulasi yang berlebihan dan juga suara-suara yang mengganggu.

Pada bayi, suara berisik juga mempengaruhi konsentrasinya. Ketika tengah membentuk  pemahaman tentang sesuatu, Bayi membutuhkan ketenangan. Usahakan agar tidak memberikan stimulasi secara terus menerus yang berkelebihan. Sebab, cara tersebut malahan dapat membuat otak bayi bekerja terlalu cepat sehingga tidak mampu mencerna pengalaman yang didapatnya dengan baik. Berikan stimulasi secara perlahan, bertahap dan dengan frekuensi berulang-ulang.

  1. Menciptakan lingkungan yang dapat mendorong pembelajaran.

Disamping lingkungan yang aman dan tenang, beragam benda stimulasi yang ada pada lingkungan mampu mendorong proses pembelajaran pada bayi. Tidak perlu barang-barang mewah ataupun mahal. Selagi memiliki fungsi stimulasi, segala barang dapat dimanfaatkan, misalnya : botol plastik bekas air mineral lalu didalamnya diisi dengan beras. Sudah bisa dijadikan sebagai mainan sederhana, dapat berguna untuk menstimulasi pendengaran bayi. Untuk menghasilkan suara yang berbeda, tinggal mengganti isian dalam botol plastik tersebut, misalnya : isian diganti dengan kacang hijau, ataupun kacang tanah.

  1. Memberikan respons balik terhadap sinyal yang diberikan Bayi.

Respons-respons positif yang diberikan oleh orangtua terhadap sinyal yang diberikan oleh bayi, akan membuat bayi merasa diperhatikan serta dipedulikan sehingga semakin memperkuat pemaknaan saat bayi mengkonstruksikan pemahaman terhadap sesuatu di otaknya. Jadi, ketika bayi mengeluarkan suara, “ooo…” segera mungkin agar orang tua melakukan kontak mata pada bayi tersebut, sembari  menirukan suaranya, “ooo….” sambil tersenyum pastinya.

  1. Memberi kesempatan pada Bayi untuk melakukan perubahan.

Menyodorkan mainan yang mungkin mampu membuat bayi melakukan perubahan, saat bayi sedang bermain. Berikan mainan yang aman sesuai dengan usia bayi (mudah digenggam). Misal, bola-bola kecil yang terbuat dari kain ataupun kerincingan. Sebab kedua mainan tersebut termasuk ringan sehingga memungkinkan agar bayi dapat meraih dan meangangkatnya. Pengalaman yang didapat saat bayi mampu meraih,  mendorong, menggerak-gerakkan bola/ kerincingan tersebut, akan mampu membangun kepercayaan diri pada bayi bahwa ia mampu melakukan sesuatu hal. Hal ini merupakan modal bayi untuk lebih mengembangkan keterampilannya dikemudian hari.

  1. Beri Bayi kebebasan untuk bereksplorasi.

Bayi belajar dari lingkungan di sekitarnya dengan melakukan berbagai eksplorasi. Menciptakan lingkungan yang bermanfaat untuk perkembangan kognitif Bayi. Misalnya : memberikan aneka warna yang cerah pada bedding di box bayi, hal tersebut sudah merupakan stimulasi yang baik untuk penglihatan bayi. Atau bisa juga dengan memanfaatkan mainan gantung berputar-putar yg diletakkan dibagian tengah atas pada box bayi.

  1. Jangan sekali-kali mengalihkan perhatian Bayi.

Saat kita beraktivitas dengan bayi, termasuk juga sedang bermain, terimalah apa pun yang menarik perhatian bayi pada saat itu. Jangan mengalihkan perhatian bayi kepada hal-hal yang lain, apalagi sampai membuat bayi berhenti saat sedang asyik bermain. Misalnya : ibu ataupun ayah tiba-tiba saja mengambil mainan bola lalu menggantikannya dengan mainan kerincingan, padahal bayi sedang asyik mengamati mainan bola tersebut. Bayi membutuhkan waktu saat sedang memaknai sesuatu. Jadi, berikan bayi kesempatan untuk memahami sesuatu. Bila ingin menggantikan atau mengenalkannya pada mainan lain, harap di tunda sampai bayi benar-benar telah menyelesaikan pemahamannya (biasanya bila bayi sudah selesai, mainan itu akan diletakkannya bahkan dilemparnya). Hal ini bertijuan agar otak sang buah hati memiliki jeda untuk mencerna dan memahami sesuatu.

  1. Memberi Bayi penghargaan.

Ada banyak sekali bentuk penghargaan, salah satunya bisa dalam kata-kata positif. Saat buah hati berhasil menggapai mainan yang ada di dekatnya, maka berikanlah buah hati senyuman sebagai penghargaan ataupun hadiah. “Hore, dedek pintar berhasil ambil mainan, ya.” Penghargaan seperti ini dapat menambah keyakinan si buah hati bahwa dirinya mampu.

  1. Ajaklah Bayi berbicara, meski ia belum mengerti.

Bayi juga membutuhkan interaksi dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Interaksi itu antara lain diperoleh bila ibu/ ayah rajin bercakap-cakap dengannya. Meski bayi terlihat belum mengerti apa yang dipercakapkan, namun interaksi ini tetap akan menstimulasi perkembangan kognitifnya. Jadi, mulai sekarang ajaklah buah hati mengobrol, jangan hanya menggendong atau pun membelai saja.

  1. Mendongengkan si Bayi ataupun Membacakan buku cerita.

Mendongeng atau Membacakan cerita dalam suasana tenang, hangat serta penuh kasih sayang mampu memberikan kesan kuat pada memori bayi, baik dari isi ceritanya maupun warna-warni dan tampilan gambar pada buku. Bacalah cerita dengan intonasi yang keras dan perlahan. Aktivitas seperti ini akan berguna untuk mengembangkan keterampilan berbahasanya dikemudian hari.

Baca Juga : Bermain Gadget Pada Malam Hari Ternyata Bisa Membuat Kesehatan Si Kecil Menurun